Friday, 6 December 2013

Kosmetik & Perawatan yang Tidak Diperbolehkan Selama Masa Kehamilan

(Skincare & Treatment Don’ts During Pregnancy)

Penulis: Fitria Kirana (moderator forum Mommiesdaily.com, ibu 4 anak)

Kadang karena sudah terbiasa dan cocok dengan produk-produk perawatan yang rutin dipakai sehari-hari, saat hamil kita lupa mengecek, apakah kandungan yang terdapat di dalam produk-produk tersebut aman untuk ibu hamil. Yang paling berat biasanya produk-produk anti jerawat yang sudah setia menemani kulit kita yang pada dasarnya acne-prone. Sisi baiknya, kalau hoki, saat hamil perubahan hormon menjadikan kulit lebih mulus, lembap, dan bebas jerawat. Pada saya, kehamilan menghilangkan ‘bruntusan’ yang nampaknya permanen, dan menjarangkan jerawat. Ketahuan, kan, kenapa saya anteng hamil melulu? Hahaha.

Bahan-bahan yang disarankan untuk dihindari biasanya yang mudah terserap ke dalam darah sehingga bisa terbawa ke janin dan menimbulkan gangguan pada perkembangannya. Beberapa kandungan produk perawatan, dan treatment yang sebaiknya dihindari saat hamil diantaranya seperti:

1. RETINOL, RETINOID, ISOTRETINOID (ACCUTANE), dkk

Derivatif dari vitamin A yang biasa terdapat dalam produk anti jerawat ini terkenal keras untuk ibu hamil. Berita beberapa waktu lalu bahkan menyebutkan bahwa seorang ibu yang terus menggunakan produk-produk berbahan ini selama hamil harus membayar mahal dengan mengaborsi janinnya karena mengalami cacat bawaan yang parah karena positif mengalami fetal retinoid syndrome.

Cacat bawaan yang berhubungan dengan fetal retinoid syndrome meliputi: hidrosefalus, mikrosefali, gangguan kecerdasan, kelainan telinga dan mata, bibir sumbing dan gangguan pada wajah lainnya, dan cacat jantung. Isotretinoin dapat menyebabkan cacat lahir pada minggu-minggu awal kehamilan, bahkan sebelum kehamilan diketahui. Jadi untuk yang sedang TTC (trying to conceive) sebaiknya sudah menghindari produk-produk dengan kandungan ini. Suplemen vitamin A juga harus dikonsultasikan ke dokter kandungan bila ingin terus diminum.

2. SALICYLIC ACID ATAU BHA

Bahan ini biasanya digunakan dalam toner rangkaian produk perawatan muka dan peeling. Kandungan asam salisilat dalam toner pembersih yang digunakan 1-2 kali sehari ditemukan tidak cukup banyak untuk menimbulkan masalah serius pada janin. Tapi lain halnya pada produk peeling yang penggunaannya lebih lama dan kandungan BHA-nya lebih pekat. Konsultasikan pada dokter kulit dan dokter kandungan bila harus menggunakan produk berbahan ini, ya.

3. PRODUK PELANGSING

Yang membuat produk pelangsing menjadi berbahaya untuk ibu hamil di antaranya adalah kandungan kafein yang fungsinya melarutkan lemak. Walaupun kafein dalam jumlah kecil, seperti dua cangkir kopi sehari masih diperbolehkan, tapi kandungan yang dipakai untuk produk pelangsing nampaknya jauh lebih besar sampai dimasukkan dalam kategori bahaya. Selain kafein, ada beberapa produk yang memiliki kandungan herbal juga yang belum melalui penelitian menyeluruh atas efek sampingnya.

Selain masalah kandungannya, obat pelangsing biasanya melebarkan pembuluh darah dan mempercepat metabolisme. Pada ibu hamil yang secara alami pembuluh darah sudah lebar dan beresiko hipertensi gestasional (penyakit darah tinggi yang timbul pada masa kehamilan saja), dengan makin lebarnya pembuluh jadi makin berbahaya.

4. PIJAT

Walau pijat sangat dianjurkan untuk ibu hamil, tapi ada beberapa area pijat yang sebaiknya dihindari. Misalnya daerah perut dan punggung bawah. Kurang lebih di selingkaran daerah rahim. Pijatan di daerah ini ditakutkan berpengaruh langsung ke rahim. Tapi kalau pijatnya lembut tetap boleh, kok.
O, ya, pijat semacam refleksi atau akupuntur di daerah telapak kaki juga tidak disarankan karena beberapa titiknya juga tersambung ke daerah rahim.

Hati-hati juga dengan minyak aromaterapi yang biasanya dipakai memijat atau menjadi pewangi ruangan tempat pijat karena ada beberapa minyak yang tidak disarankan untuk ibu hamil. Diantaranya: clary-sage, savory, sage, rosemary, cypress, kayu manis, basil, pennyroyal, hyssop, myrrh, adas (fennel), peppermint, thyme, origanum, melati, juniper, marjoram, rose (mawar).

5. PRODUK PEWARNA DAN PERAWATAN KUKU

Bahan-bahan yang harus dihindari dari produk-produk perawatan kuku adalah:
- DBP (dibutyl phthalate).
- Toluene
- Formaldehyde, yang lebih dikenal dengan formalin.

DBP dapat menyebabkan masalah produksi hormon pada janin, toluene menyebabkan masalah reproduksi, sakit kepala, mata gatal dan lain-lain, dan formaldehyde dapat menyebabkan masalah pernapasan dan bahkan kanker.

Pastikan mengecek label pewarna dan produk-produk kuku lainnya sebelum menggunakan, ya, Mommies. Karena produk yang saya punya, justru top coat yang menulis peringatan supaya tidak digunakan oleh ibu hamil, sementara pada pewarna malah tidak ada (berbeda merek sih memang keduanya).


daftar pustaka:
Safe skin care during pregnancy -->http://tinyurl.com/5vzahl
Fetal retinoid syndrome --> http://tinyurl.com/lltk8t4
Can I Use Nail Polish While Pregnant? -->http://tinyurl.com/28yvulm
Mommiesdaily forum thread Bumil’s Skin Care & Treatment – Do’s and Dont’s -->http://femaledaily.com/showthread.php?t=2190

sumber: www.mommiesdaily.com

Perlukah Bayi SEKOLAH?


Kalau mendengar kata sekolah, kok, sepertinya serius sekali ya? Murid harus duduk manis sambil mendengarkan guru mengajar. Soal materi pelajarannya, kalau tidak menulis, membaca, mencongak, berhitung. Aduh masak bayi harus menjalani semua itu. Jangan khawatir, yang namanya sekolah bayi tidak seperti sekolah pada umumnya. Setidaknya ada beberapa perbedaan yang mendasar.

Salah satunya, bentuk fisiknya. Sekolah/kelas bayi pasti dirancang sedemikian rupa sehingga aman. Semua dinding dan lantainya dilengkapi sejenis matras untuk meminimalkan risiko kecelakaan pada bayi yang keterampilan motoriknya memang belum sempurna. Tenaga pengajarnya pun paham betul mengenai pendidikan anak usia dini, termasuk soal tumbuh kembang bayi dan cara menstimulasi kemampuan bayi setiap tahapan usia.

Hal lain yang perlu diketahui, esensi sekolah bayi sebenarnya bukan untuk si bayi, tapi lebih bagi orangtua atau pendampingnya. Lantaran itu, menjadi syarat mutlak bagi orangtua/pendamping untuk ikut belajar di dalam kelas bersama Si Kecil. Lagi pula attachments bayi pada orang terdekatnya masih tinggi. Bilamana ia harus bersekolah bersama bayi-bayi lain dan guru yang belum akrab dengannya, bisa dipastikan kegiatan belajar di sekolah tersebut tidak akan sukses karena bayi tidak merasa nyaman dan aman. Dengan begitu, pendamping bisa sekaligus belajar mengenai tahapan perkembangan anak dengan cara menstimulasinya. Ini semestinya menjadi sebuah keuntungan bagi pendamping, khususnya orangtua.

MENJAWAB KEBUTUHAN

Keberadaan sekolah bayi, menurut Tari Sandjojo, Psi., seorang praktisi pendidikan lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), sebenarnya merupakan jawaban dari kebutuhan orangtua zaman sekarang yang yang umumnya pasangan bekerja dan sibuk seharian sehingga tidak memiliki waktu banyak untuk menstimulasi bayinya. Lantaran itu, beberapa orang tua berpikir, "Lebih baik bayiku berada di suatu lingkungan yang kaya dengan stimulasi ketimbang hanya di rumah bersama pengasuh."

Tari sepakat dengan pemikiran seperti itu. Terlebih di sekolah bayi, beberapa bayi yang memang membutuhkan bisa mendapatkan aneka stimulasi yang lengkap. Contohnya sarana untuk merangkak di pasir, di rumput, dan mainan tentunya. Memang, pengasuh pun bisa melakukan stimulasi, tapi tentu ia tidak dapat dituntut banyak. Sementara, orangtua bisa menuntut apa yang telah dijanjikan sekolah bayi padanya.

BAYI MANA YANG PERLU SEKOLAH?

Ada beberapa kriteria bayi yang sebaiknya "disekolahkan", yakni:

1.Bayi yang kurang mendapatkan stimulasi yang sesuai dengan usianya. Beberapa ciri bayi seperti ini adalah tampak pendiam, pasif, takut berlebihan bila bertemu orang asing.

2. Bayi tampak agresif, rewel atau pembosan

3. Bayi yang perkembangannya tidak sesuai dengan usianya (bisa dicek di Kartu Menuju Sehat/KMS yang biasanya diberikan RS/Dokter/Puskesmas). Misal, pada usia 5 bulan belum bisa menggenggam mainan atau biskuit, usia 8 bulan belum bisa mengeluarkan suara seperti "Ma..ma..." atau belum bisa berdiri sambil berpegangan.

Kapan Si Kecil sudah bisa kita ikutkan sekolah, menurut Tari tidak ada patokan. Namun biasanya sekolah bayi menerima bayi yang minimal sudah bisa duduk.

TIPS MENCARI SEKOLAH BAYI

Sebelum mencari sekolah untuk bayi, cari tahu dulu kebutuhan Si Kecil; apa yang ingin dikembangkan, mana yang perlu diperbaiki dengan melihat apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan Si Kecil. Setelah itu baru melakukan investigasi ke sekolah-sekolah. Beberapa hal ini sebaiknya dijadikan bahan pertimbangan:

1. Cari sekolah yang sesuai dengan kebutuhan bayi. Tanyakan program yang ditawarkan di sekolah tersebut. Contoh; jika di rumah Si Kecil tidak punya kesempatan untuk bermain di luar ruang. Maka carilah sekolah yang banyak kegiatan di luar ruang, bermain pasir, main di rumput, main air, misalnya.

2. Pastikan Si Kecil happy bersekolah di situ.

3. Pastikan sanitasi di kelas dan sekolah baik.

4. Tenaga pengajar sebaiknya selain memiliki latar belakang pendidikan anak usia dini, juga sudah dikaruniai anak. Pada umumnya mereka akan memiliki naluri keibuan, kepekaan, kehati-hatian, dan pemahaman akan kondisi bayi secara lebih baik. "Masalah-masalah seperti ini tidak bisa didapatkan di sekolah setinggi apa pun," ujar Tari.

5. Pastikan fasilitas pendukung "belajar", terutama yang dibutuhkan si kecil, lengkap dan tercukupi dengan baik.

TIPS PENTING LAIN:

- Jika yang menjadi pendamping Si Kecil di sekolah bukan orangtua, jalinlah komunikasi dua arah secera intens dengan sekolah. Selalu cari tahu apa yang sudah diberikan sekolah kepada bayi, acara apa saja yang sudah dilakukan dan bagaimana perkembangan kondisi serta keadaan bayi dari hari ke hari.

- Jangan lupa meminta tip dari sekolah/guru untuk diterapkan di rumah sebagai PR kita, apa-apa yang sudah dilakukan di sekolah dan yang mana yang bisa dilakukan di rumah. Juga tanya bagaimana memodifikasi kegiatan di sekolah yang tidak bisa dilakukan di rumah, supaya bisa tetap kita terapkan pada Si Kecil di rumah.

- Yang mesti dihindari oleh pendamping ataupun orangtua, "adalah membanding-bandingkan anaknya dengan anak lain." Justru yang mesti kita lakukan adalah, lanjut Tari, mempertajam dan menguatkan kemampuannya, serta memperbaiki kekurangannya. Ingat tiap anak itu berbeda dan unik.

DILAKUKAN DI RUMAH

Sasaran sekolah bayi adalah memberikan stimulasi sebanyak-banyaknya kepada anak, dan mengoptimalkan perkembangan sesuai dengan usia masing-masing anak. Jadi yang dilakukan di sekolah bayi adalah:

1. Mengasah dan mengoptimalkan kemampuan motorik. Ini adalah hal pokok yang menjadi sasaran utama sekolah bayi. Bagaimanapun, perkembangan motorik di usia 0-1 tahun adalah hal yang utama. Dari motorik kasar hingga motorik halus.

2. Merangsang panca indera. Ini adalah pekerjaan yang pasti dilakukan sebuah sekolah bayi. Sebab di usia ini panca indera seorang manusia mulai berkembang, khususnya penglihatan, pendengaran, dan perabaan.

3. Melatih bayi bersosialisasi dengan lingkungan. Maksudnya adalah melatih bayi bisa menerima keadaan lingkungan, melihat banyak orang, mendengar suara-suara ramai, keras, kencang, misalnya.

Memang benar ketiga poin itu kita semua sudah mengetahui dan mengenalnya. Tapi yang menjadi persoalan belum banyak orangtua yang menjalankannya. Sebabnya, orangtua tidak tahu bagaimana memberikan stimulasi kepada ketiga poin tersebut pada anak.

Nah, dengan ikut sekolah bayi, selain si kecil akan mendapatkan ketiga hal ini dengan baik. Juga orangtua bisa mengetahui bagaimana cara dan triknya melakukan hal tersebut. Barulah jika orangtua sudah tahu, "Sebenarnya menyekolahkan bayinya sudah tidak perlu dan penting lagi," kata Tari. Terlebih sekarang, sudah banyak buku dan bacaan yang bisa dijadikan kamus untuk melakukannya. Tinggal apakah kita punya waktu, kesempatan, dan komitmen untuk melakukan hal tersebut dengan baik di rumah setiap hari?

sumber: www.ibudanbalita.com

Tuesday, 29 October 2013

Mengapa Anak Menjadi Korban Bully?


Anak menjadi korban bully temannya di sekolah? Apa penyebabnya, dan apa yang harus Mama lakukan?

Bullying dapat berakibat fatal untuk pelaku dan juga korbannya, karena hal ini dapat berdampak pada harga diri dan masa depan anak. Bahkan tak sedikit korban bullying yang akhirnya berujung pada tragedi bunuh diri.

Menurut Pustika Rucita, B.A., M.Psi, psikolog klinis dari Personal Growth, setiap anak bisa menjadi korban bully, tak terkecuali anak Anda. Yang perlu Anda lakukan adalah mendidik anak agar menjadi pribadi yang tangguh, dan percaya diri. Sehingga secara otomatis, ia tak mempan di bully.

Yang perlu Mama juga ketahui adalah penyebab anak menjadi korban bully.

Pustika menyebutkan bahwa ada beberapa sifat atau karakteristik tertentu yang membuat seorang anak menjadi korban bully, di antaranya pemalu, penakut, memiliki ukuran fisik yang lebih kecil dibanding teman seusianya, berusia lebih muda, atau tidak memiliki banyak teman.

Sebenarnya semua anak bisa menjadi korban bully. Hanya saja, dengan adanya sifat atau karakteristik di atas, risiko seorang anak untuk di-bully menjadi lebih besar.

PENCEGAHAN

Pelaku bully biasanya mencari korban dari kalangan yang menurut mereka ‘berbeda’, baik dari segi penampilan, sifat (misalnya pemalu, pendiam), ras, atau suku.

Hal ini ditegaskan oleh D’Arcy Lyness, PhD, psikolog dari Kids Health Amerika Serikat, yang mengatakan bahwa seorang anak pelaku bully biasanya akan memilih anak lain yang secara emosional atau fisik lebih lemah, atau bahkan yang berpenampilan beda dengannya, hanya agar ia merasa lebih penting, popular, atau berkuasa. Coba cara berikut ini, Ma:

1. TUMBUHKAN RASA PERCAYA DIRI
Mengenal sifat dan karakteristik anak sejak dini akan membantu meminimalisir kemungkinan ia menjadi korban bully kelak. Sifat pemalu dan penakut misalnya, bisa diubah dengan cara menanamkan nilai-nilai positif ke dalam dirinya. Jangan segan-segan mengikutsertakan anak ke dalam berbagai kegiatan di luar rumah yang sifatnya akademis maupun non akademis.

Agar ia merasa dirinya memiliki kompetensi diri yang membuatnya merasa berharga dan percaya diri, dan lebih berani menghadapi lingkungannya.

2. LATIH KEMAMPUAN SOSIAL ANAK
Anak yang pemalu juga perlu dilatih kemampuan sosialnya, karena kemampuan beradaptasi dengan lingkungan juga menjadi salah satu syarat agar anak tak mudah di-bully.

Tak ada salahnya Anda melibatkan anak pada kegiatan yang membutuhkan interaksi, seperti memasukkannya ke kelompok bermain sejak dini, mengajaknya berkunjung ke rumah saudara yang memiliki anak kecil sebaya, atau mengadakan play date dengan teman-temannya. Hal ini membantu meningkatkan rasa percaya diri anak.

3. LATIH ANAK SELESAIKAN MASALAH SENDIRI
Kemampuan anak dalam hal menyelesaikan masalah juga perlu diperhatikan. Anak yang tidak pemalu dan tidak penakut, tidak menjamin dirinya tidak akan menjadi korban bully. Itulah sebabnya, penting juga diperhatikan untuk melatih kemampuan anak dalam memecahkan masalah.

Anak perlu diberi kesempatan untuk mengatasi masalahnya sendiri sehingga ia dapat belajar untuk menghadapi konsekuensi dari setiap masalah yang dihadapinya. Jangan selalu membantunya menyelesaikan semua masalah, Ma! Orang tua yang terlalu protektif, justru akan membuat si kecil menjadi sasaran empuk sebagai korban bully.

4. BERANI BERKATA "TIDAK"
Anak harus diajari untuk berani melawan siapa yang melakukan kekerasan terhadapnya, karena menurut peneliti dalam bidang perilaku manusia dari Amerika Serikat (AS), Dr John Demartini, para pelaku bullying tidak akan menyerang anak yang bisa memberikan perlawanan balik.

BOLEHKAH KITA TURUN TANGAN SAAT ANAK DI-BULLY?

Perubahan sikap yang terjadi secara tiba-tiba patut dicurigai bahwa anak telah menjadi korban bully. Misalnya, anak menjadi pemurung, sebentar-sebentar mengeluh sakit, gelisah saat tidur, atau sering bermimpi buruk. Tanda lain adalah jika anak yang tadinya rajin ke sekolah menjadi ogah-ogahan dengan berbagai alasan tak jelas.

Mengajarkan anak untuk membalas perlakuan temannya, bukanlah penyelesaian masalah yang baik. Justru ajaran seperti ini malah bisa membentuk anak untuk menjadi pelaku bully berikutnya.

Menurut Pustika Rucita, B.A., M.Psi, psikolog klinis dari Personal Growth, cara terbaik adalah mencari mediator, misalnya pihak sekolah, untuk menemani Anda bertemu dengan pelaku bully sekaligus orangtuanya. Kehadiran mediator dapat membantu Anda dalam mencari solusi terbaik untuk semua pihak, dan mencegah Anda meluapkan emosi dengan cara yang berlebihan.

Tapi, jangan ragu untuk ikut bertindak apabila bullying yang dialami anak sudah masuk tahap yang membahayakan. Misal, anak mengalami kekerasan fisik yang menimbulkan bekas luka. Segera minta bantuan pihak sekolah (jika bullying terjadi di sekolah) untuk membantu kordinasi dan mediasi dengan pelaku bully dan orang tuanya. Jika memang diperlukan, Anda juga boleh melaporkan kasus bullying pada pihak yang berwajib.

Pustika menegaskan bahwa tak ada salahnya membawa korban bully berkonsultasi kepada psikolog, terutama jika Anda merasa kasus bullying membawa dampak negatif yang berkepanjangan, seperti mengalami masalah emosional dan perilaku, anak tak lagi merasa aman di sekolah, merasa terisolasi, rendah diri, stres, dan mengalami kemunduran dalam hal prestasi. Bantuan sedini mungkin juga dapat membantu anak untuk lebih cepat merasa positif dengan dirinya sendiri, dan tidak membuatnya larut dalam permasalahan yang sama.

sumber: www.parenting.co.id

Menggendong = BAU TANGAN? Masa sih?


Ada yang berpendapat, bahwa sering menggendong bayi sama saja dengan memanjakannya. Bahkan istilah 'bau tangan' dicap pada bayi-bayi yang baru mau tenang bila digendong, terutama oleh ibunya. Pendapat lain yang ekstrim adalah bayi yang selalu digendong atau didekap, akan tumbuh menjadi bayi yang rewel, cengeng, selalu mencari perhatian, tidak mandiri dan manja.

Anggapan di atas sudah pasti keliru. Tahukah Anda, menggendong merupakan salah satu bagian penting dalam pengasuhan anak. Menurut dr. William Sears, dokter anak yang sangat berpengalaman soal pengasuhan, menggendong adalah salah satu perangkat dari Attachment Parenting, sebuah metode pengasuhan anak yang lebih dari sekadar menerapkan aturan-aturan yang super ketat. Metode ini dikenal dengan penggunaan tujuh perangkat “Baby B”, yaitu:

1. Birthbonding (ikatan lahir/keterikatan).
2. Breastfeeding (menyusui).
3. Babywearing (menggendong bayi).
4. Balance (keseimbangan).
5. Bedding close to baby (tidur berdekatan dengan bayi).
6. Belief in the signal value of baby’s cry (percaya pada nilai sinyal tangisan bayi).
7. Beware of the baby trainers (waspada terhadap para pelatih bayi).

Dengan tujuh “Baby B”, Anda dapat belajar membaca 'bahasa' dari bayi dan bagaimana meresponnya dengan tepat. Menggendong merupakan bagian dari “handling the baby with love”. Tak ada istilah “bau tangan” atau bayi jadi rewel, yang terjadi malah sebaliknya. Bayi yang sering digendong menjadi lebih bahagia karena ada jalinan kedekatan dengan ibunya.

Tak hanya jalinan kedekatan yang kuat antara ibu dan bayi, ada berjuta manfaat yang muncul dari kegiatan menggendong bayi.

MANFAAT UNTUK BAYI

1. Menenangkan.
Anda dan bayi bergerak dan beraktivitas bersama. Bayi akan mendengar suara Anda ketika Anda berbicara dengan orang lain. Ia ikut merasakan emosi Anda dan yakin Anda memberinya rasa aman serta nyaman. Keadaan ini membuat ia tak punya alasan untuk rewel karena ia masih menempel pada ibunya.

2. Mengajarkan bayi bergembira.
Umumnya bayi tidak ingin sendirian saat terjaga. Ia butuh seseorang berada di dekatnya. Ketika dalam kandungan, bayi setiap saat mendengar suara Anda dan belaian tangan Anda. Ketika menggendong, Anda menciptakan langkah-langkah berirama, mengajaknya tersenyum, mengajaknya ngobrol. Itu semua merupakan cara mengajarkan bayi bergembira.

3. Menstimulasi sistem keseimbangan.
Sistem keseimbangan terletak di bagian dalam telinga yang bekerja sebagai sensor keseimbangan tubuh. Stimulasi saat Anda melakukan gerakan lembut pada saat menggendong seperti mengusap atau membelai bayi, membantunya bernapas sehingga sistem keseimbangan tubuh tumbuh dengan lebih baik. Akibatnya kemampuan motorik meningkat.

4. Mengajarkan tentang dunia.
Bayi ikut melihat apa yang Anda lihat saat ia dalam gendongan. Ia diajak untuk siap berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam dekapan Anda, bayi dapat melihat dan mengamati kejadian di sekitarnya dengan perasaan aman. Ketika ia melihat ekspresi Anda, ia juga belajar tentang emosi.

5. Belajar bicara.
Bayi yang sering digendong punya keterampilan bicara lebih baik. Sebab bayi sudah memerhatikan dan menyimak percakapan Anda sejak dini. Bahkan bayi bisa merasa ikut diajak bicara, karena posisi bayi berada dalam level mata dan suara yang jaraknya cukup dekat dengan Anda.

MANFAAT UNTUK IBU

1. Mudah menyusui.
Masih ingat perangkat “Baby B”, yaitu Babywearing dan Breastfeeding di metode Attachment Parenting? Kedua hal ini saling mendukung dalam manfaat yang satu ini. Saat menggendong, memudahkan Anda untuk menyusui bayi. Anda juga dapat memberikan posisi nyaman untuk bayi menyusu, dibandingkan bila ia hanya tidur di atas tempat tidur.

2. Sambil bekerja.
Menggendong bayi dapat membuat kehidupan Anda menjadi lebih mudah. Anda tak harus menunggui bayi di kamar sepanjang hari. Menggendong bayi dapat membebaskan Anda untuk tetap beraktivitas. Saat ia terjaga dari tidurnya, Anda bisa segera mengajaknya ngobrol.

3. Anda lebih perhatian.
Posisi bayi di pelukan Anda yang dekat dengan pandangan Anda menjadikan Anda menjadi lebih memerhatikan gerak-gerik bayi. Keamanan dan kenyamanan bayi lebih mudah Anda rasakan. Anda pun jadi lebih mengenal kebiasan buah hati Anda. Anda belajar untuk peka dan merespon bayi dengan tepat.

4. Mudah ditidurkan.
Bila bayi sulit tidur, menggendong bisa jadi langkah selanjutnya setelah Anda yakin popoknya kering dan perutnya kenyang. Menggendong bisa jadi cara untuk menidurkan bayi dengan lebih mudah, diiringi nursery rhymes. Alunan musik, suara merdu Anda ditambah ayunan lembut adalah ramuan ampuh untuk menidurkan bayi. Bayi pun tidur lebih nyaman dan lama.

5. Praktis bepergian.
Sebentar atau lama tak jadi soal, sebab Anda tinggal ambil gendongan dan si kecil pun nyaman keluar rumah bersama Anda.

sumber: www.ayahbunda.co.id